Dinilai Omong Kosong : PT. TNG Janjikan Keuntungan Rp 10 Miliar Per Tahun

0
24

POSBUMI.COM,KOTA TANGERANG – Dari perkembangan pembahasan penyertaan modal yang ada di BUMD Kota Tangerang di mana ada yang disepakati terkait dunia transportasi seperti Bus Tayo yang ada di Kota Tangerang

Edi Candra Dirut PT Tangerang Nusantara Global (PT TNG), salah satu BUMD Kota Tangerang ketika ditemui di ruang kerjanya mengatakan, terkait pemberitaan yang berkembang tentang PT TNG menegaskan tidak ada tindakan korupsi atau penggunaan anggaran secara siluman. “Tidak ada korupsi, akan tetapi kalau masalah kerugian pada PT TNG ya itu memang ada,” kata Edi, Senin (12/10/2020).

Lebih lanjut Edi menjelaskan, kerugian yang dialami oleh PT TNG ini masih dalam suatu kewajaran sebab anggaran tersebut digunakan untuk keperluan operasional perusahaan. “Bukan dikorupsi, sebab namanya perusahaan baru untuk biaya operasional, sewa kantor, membeli alat transportasi, dan lain sebagainya,” jelas Edi.

“Terkait pembahasan penyertaan modal di sini kami dipercaya dan ditugaskan untuk mengelola transportasi yaitu, Bus Tayo dan mobil feeder sebanyak 100 unit yang terdiri dari 20 unit bus dan 80 unit mobil feeder berdasarkan kalkulasi rencana pendapatan sebesar Rp 10 milyar per tahunnya,” tambah Edi.

Oleh karena itu, Edi meminta dukungan kepada semua pihak. “untuk itu saya minta dukungan dari tementemen media. Dalam hal ini semoga lancar dan semoga mampu meningkatkan PAD Kota Tangerang,” tutupnya.

Terpisah, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan Pemuda Peduli Bangsa (LSM GP2B) Umar Atmaja ikut memberi tanggapan terkait hal tersebut. “Kami secara kelembagaan sudah membuat kajian walaupun belum sepenuhnya sempurna, tapi menurut kami langkah pemerintah yang akan diambil seperti memberikan pengelolaan transportasi kepada PT TNG adalah langkah yang kurang tepat,” kata Umar.

“Dari hasil kajian kami, 100 unit yang akan dikelola oleh PT TNG itu akan menambah angka kerugian yang dialami oleh PT TNG. Sebab apa ? Kalau 100 unit katakan lah butuh 3 pengemudi per unitnya, artinya akan ada 300 pengemudi dikalikan Rp 3 juta (gaji UMR red) = Rp 10,8 milyar,” tambah Umar.

“Belum lagi kebutuhan bahan bakar, katakanlah Rp 200 ribu per hari per unit jadinya Rp 200 ribu x 100 unit x 30 hari x 12 bulan = Rp 7,2 milyar dan ditambah biaya servis, katakanlah Rp 1 juta per unit per bulan, jadi Rp 1 juta x 100 unit x 12 bulan = Rp 1,2 milyar tambah lagi ganti ban, katakanlah setahun sekali, untuk bus 20 unit x 6 ban = 120 ban x Rp 2 juta = Rp 240 juta, buat Feeder 80 unit x 4 ban = 320 ban x Rp 700 ribu = Rp 224 juta,” jelas Umar.

“Jadi kalau mau dikalkulasikan semua totalnya sekitar Rp 19.664.000.000,- dan total ini juga belum gaji pengurus yang mengelola transportasi serta pajak kendaraan bermotornya. Kalau PT TNG memproyeksikan pendapatan sebesar Rp 10 milyar per tahun artinya masih ada kekurangannya dan omong kosong. Pertanyaannya adalah apakah kekurangan itu masuk kedalam Kerugian PT TNG atau siapa yang mau menutupi kekurangan tersebut,” ujar Umar.

“Jadi menurut hemat saya dari pada menghabiskan uang rakyat, baiknya PT TNG dibubarkan saja. Sebab kalau dipertahankan akan terjadi kerugian bukan peningkatan. Dilihat dari sudut pandang organisasi managerial, wali kota sebagai pembina di perusahan tersebut di atas harusnya menginisiasi dilakukannya reevaluasi untuk selanjutnya melakukan rebudgetting untuk tahun anggaran akan berjalan. Sehingga pos yang pada tahun anggaran berjalan defisit dapat dipenuhi secara proporsional dan berimbang,” tutup Umar.

RED

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here