Gugatan Sidang Sengketa Lahan TPA Rawa Kucing, Ahli Waris Keturunan Tionghoa Tuntut Ganti Rugi Ke Bang Jaro

0
235

POSBUMI.COM.KOTA TANGERANG – Sidang Lapangan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri kota Tangerang atas gugatan terhadap tergugat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing Neglasari atas perkara tanah yang menjadi objek perkara oleh penggugat Jaro Nursaid, Jum’at (18/9/2020).

Sidang lapangan tersebut dihadiri puluhan warga tergabung secara langsung, dan dihadiri camat Neglasari, Trantib Kecamatan Neglasari dan lurah serta petugas Aset.

Sebelumnya Dalam perkara tersebut pihak penggugat berjumlah 5 orang yang diwakili oleh Nursaid, yang merasa dirugikan atas penggusuran menuntut ganti rugi atas lahan yang dia klaim hingga Rp. 1,2 T, lantaran menurutnya tanah dan bangunan tersebut miliknya.

Dalam persidangan lapangan Hakim menjelaskan bahwa sidang tersebut mau melihat lokasi tanah yang menjadi persengketa an, mulai dari Luas, lebar dan batas-batas, pihaknya juga dalam sidang tersebut sebelumnya memberitahukan kepada penggugat dan tergugat agar tidak ada perdebatan, jika nanti masing-masing pihak ada yang merasa keberatan akan dicatat oleh oleh majelis.

Namun kendati demikian saat dibuktikan pihak tergugat DLH bahwa tanah yang di klaim pihak tergugat memang tanah kuburan milik pemerintah yang telah bersertifikat yang diperlihatkan kepada majelis hakim berikut peta Bidang dari Badan Pertanahan Negara (BPN).

Dinas Lingkungan Hidup melalui Diding, menyatakan pihaknya akan terus melakukan upaya perlawanan lantaran pihaknya memiliki kelengkapan surat-surat dan tanah yang digugat oleh penggugat telah bersertifikat.

“Yang menjadi keberatan kami adalah karena penggugat tidak memiliki alas hak yang jelas, karena kami telah konfirmasi kepada Kelurahan dan Kecamatan, pelepasan alas hak tanah yang mereka gugatkan tidak teregister baik dikelurahan maupun dikecamatan sebagai PPATS, makanya kami berani menghadapi itu karena tanah kami sudah bersertifikat”, ujar Diding.

“Itupun penggusuran ada dasar nya, yaitu permohonan warga kelurahan Kedaung Wetan, Kedaung Baru dan Neglasari, mereka memohon untuk proses pembuang sampah yang dilakukan oleh Jaro Said yang memang mengganggu aktifitas kuburan warga keturunan yang memang dari 37 kuburan sudah hilang akibat aktifitas Jaro Said yang melakukan pembuang sampah dari Tangsel”.

Lanjut Diding, “Makanya kita akan melakukan perlawanan dengan segala kekuatan, kami akan membantah semua gugatan dari si penggugat”, jelas Diding.

Namun suasana persidangan diketahui sedang berjalan menghangat, akan tetapi Puluhan warga keturunan Tionghoa menuntut keadilan dan ganti rugi kepada Jaro Said diluar ranah persengketaan yang sedang disidangkan antara penggugat dan tergugat.

Warga keturunan meminta melalui pihak pemerintah maupun pihak terkait karena kuburan keluarga keturunan telah hilang menjadi tumpukan sampah, dimana sampai saat ini belum ada sebuah solusi yang bisa diterima oleh keluarga keturunan Tionghoa tersebut.

Menurut warga keturunan bahwa mereka merasa dirugikan karena Jaro Said usaha diatas lahan kuburan warga keturunan tanpa izin, sehingga berdampak terhadap kuburan keluarga nya, terutama sampah yang bertumpuk-tumpuk yang menggunung mengubur kuburan keluarga warga keturunan.

Dua versi antara gugatan lahan oleh penggugat dan kerugian warga keturunan lahan kuburan yang dijadikan objek usaha oleh Jaro Said, seharusnya menjadi terang benderang sebagaimana kepentingan pemerintah dan kepentingan masyarakat banyak.

(Tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here