Polisi Bongkar Penipuan Berkedok e-mail Bisnis-Business Email Compromise,Kerugian Rp 276 M

0
80

POSBUMI.COM, JAKARTA – Kabareskrim Polri, Komjen Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan awal mula jaringan penipuan internasional modus e-mail bisnis (business email compromise) terbongkar. Terbongkarnya jaringan penipuan ini karena ada laporan dari Interpol Belanda kepada Divisi Hubungan Internasional (Div Hubinter) Polri.

“Beberapa waktu yang lalu, tepatnya di tanggal 3 November 2020, Divisi Hubinter Polri menerima informasi dari Interpol Belanda terkait dengan penipuan dengan modus BEC ini, yang kemudian ditindaklanjuti oleh Bareskrim kemudian bekerja sama dengan rekan-rekan PPATK,” kata Sigit dalam konferensi pers di Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (16/12/2020).

Sigit menerangkan korban penipuan adalah perusahaan Belanda, PT Mediphos Medical Supplies B.V. Para pelaku mengirim email ke korban dengan mengaku sebagai salah satu perusahaan Korea, SD Biosensor.

“Yang isi emailnya adalah perubahan nomor rekening. Kemudian korban mentransfer dana ke rekening atas nama CV Biosensor, yang mana fiktif, sejumlah USD 3,597,875.00 atau senilai Rp 52,3 miliar,” ucap Sigit.

Baca juga: Bareskrim Bongkar Penipuan Internasional Modus E-Mail Bisnis, Kerugian Rp 276 M

Dalam proses penyelidikan, polisi menangkap UDC alias EMEKA, Hafiz, Belen Adhiwijaya alias Dani dan Nurul Ainulia alias Iren. Ternyata para tersangka terkait dengan jaringan penipuan modus business email compromise yang sebelumnya diungkap Bareskrim, di kasus berbeda.

“Ternyata Saudara EMEKA ini telah beberapa kali melakukan kejahatan yang sama, yakni di 2018, korbannya adalah warna negara Argentina dengan kerugian kurang lebib Rp 43 miliar, ini sudah divonis 3 tahun. Kemudian di 2019 dengan korban warga negara Yunani, dengan kerugian kurang lebih Rp 113 miliar, ini sudah divonis sebenarnya 2 tahun 6 bulan. Di 2020 melakukan kejahatan yang sama, kali ini korbannya warga Italia dengan kerugian Rp 58 miliar, dan di tahun 2020 juga korban warga negara Jerman dengan kerugian Rp 10 miliar dan saat ini yang baru saja kita ekspos adalah korban dari warga negara Belanda,” terang Sigit.

“Hafis yang bertugas membuat dokumen fiktif dan seolah-olah menjadi direktur dari PT fiktif tersebut, kemudian dibantu oleh Saudara Dani dan Nurul. Sehingga total kerugian yang ditimbulkan adalah kurang lebih dari rangkaian kegiatan mereka, sebesar Rp 276 miliar, dan saat ini kita sita Rp 141 miliar,” sambung Sigit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here