Puasa Membentuk Kesalehan Individual dan Kesalehan Sosial

0
746

Puasa mempunyai pengaruh menyeluruh baik secara individu maupun masyarakat, dalam hadits telah disebutkan hal-hal yang terkait dengan puasa seperti halnya mengenai kesalehan individu dan lain sebagainya. Dalam menjalankan puasa secara tidak langsung telah diajarkan perilaku-perilaku yang baik seperti halnya sabar, bisa mengendalikan diri dan mempunyai tingkah laku yang baik.

Secara etimologi, puasa adalah terjemahan dari Ash-Shiyam berarti menahan diri dari sesuatu dalam pengertian tidak terbatas. Arti ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Maryam ayat 26:

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمنِ صَوْمًا.
Artinya: “Sesungguhnya aku bernazar shaum (bernazar menahan diri dan berbicara).” Jadi, Shaum (puasa), adalah “menahan dari segala sesuatu”, seperti makan, minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak bermanfaat dan sebagainya.

Ayat di atas menjelaskan bahwa Maryam berpuasa yakni tidak berbicara (diam). Menurut Tahzib, puasa adalah menahan sesuatu atau meninggalkan makanan, minuman, dan berhubungan intim (suami istri).” Atau menahan secara mutlak dan menjauh dari sesuatu.” Seseorang disebut puasa dari berbicara apabila ia menahan dan menjauhkan diri dari berbicara. Pengertian etimologi ini pada dasarnya menunjukkan bahwa puasa memiliki makna menahan, meninggalkan, dan menjauhkan.

Sementara menurut terminologi, banyak definisi puasa yang dikemukakan oleh para ulama. Secara substansial semua definisi itu memiliki kesamaan makna. Perbedaan masing-masing definisi hanya terletak pada susunan redaksi saja. Di sini dikutipkan salah satu definisi, yaitu As-Shaum, dengan arti puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dianggap membatalkan, mulai dari terbit fajar sampai dengan terbenam matahari dengan disertai niat puasa”.

Menurut syara’ arti puasa adalah sebagaimana tersebut dalam kitab Subulus Salam, yaitu :

اَلْإِمْسَاكُ عَنِ اْلأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالْجِمَاعِ وَغَيْرِهَا مِمَّا وَرَدَ بِهِ٬ فيِ النَّهَارِ عَلَي الْوَجْهِ الْمَشْرُوْعِ٬ وَيَتْبَعُ ذلِكَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الَّلغْوِ وَالرَّفَثِ وَغَيْرِهَا مِنَ الْكَلَامِ الْمُحَرَّمِ وَالْمَكْرُوْهِ فِي وَقْتٍ مَخْصُوْصٍ٬ بِشَرَا ئِطَ مَخْصُوْصَةٍ۰

“Menahan diri dari makan, minum, jima’ (hubungan seksual) dan lain-lain yang diperintahkan sepanjang hari menurut cara yang disyariatkan, dan disertai pula menahan diri dari perkataan sia-sia, perkataan yang diharamkan pada waktu-waktu tertentu dan menurut syarat-syarat yang ditetapkan.

Berpuasa adalah ibadah yang tergolong berat. Karena puasa tidak hanya membutuhkan kemampuan fisik jasmani saja, tetapi juga membutuhkan kemampuan mental yang luar biasa. Kemampuan yang kedua itu sangat dibutuhkan dalam kaitannya dengan pengendalian. Sebagai salah satu sarana membentuk kesalehan individu yang dapat terlihat dari perilaku keseharian kita yang jujur, amanah, bersikap rendah hati, tawadhu, sederhana dan hal-hal baik lainnya.

Orang yang beriman adalah orang yang memiliki kedewasaan dan kematangan dalam berpikir, beremosi dan bertindak. Seorang yang beriman dengan penandatanganan kontrak perjanjiannya dengan Allah melalui pengikraran dengan kalimat syahadat, selalu berkomitmen menjadikan seluruh aktivitas hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah.

Orang yang beriman dengan gambaran seperti itu ,akan senantiasa menerima perintah puasa dengan suka cita, tanpa ada rasa berat. Oleh karena itu, ibadah puasa kita lakukan dengan penuh keyakinan karena tujuannya adalah akan meningkatkan kualitas ketakwaan kita. Sehingga kita mampu melaksanakan ibadah puasa dengan penuh kesadaran dan keyakinan yang melahirkan kesalehan individu. Semoga Allah memberikan hidayah, dan taufik kepada kita semuanya.

Kesalehan individu identik dengan hubungan seseorang secara pribadi kepada Allah swt. Ia melakukan ibadah yang pahalanya hanya untuk dirinya sendiri, tetapi manfaat ibadah yang dilaksanakannya tidak dirasakan secara langsung dan berkaitan dengan kepentingan orang banyak.

Puasa memiliki dua semangat yang sangat baik dilihat dari perspektif pendidikan akhlak. Pertama, semangat preventif (pencegahan) dari hal-hal yang destruktif. Semangat yang pertama ini menjadi basis kesalehan individual.

Kesalehan individu yang dihasilkan dari ibadah puasa, itu akan tercermin dari sikapnya, di antaranya selalu berterima kasih kepada Allah SWT. Karena semua ibadah mengandung arti terima kasih atas nikmat pemberian-Nya yang tidak terbatas banyaknya dan tidak ternilai harganya. Hal ini ditegaskan al-Qur’an surat Ibrahim: 34

Seseorang yang telah sanggup menahan makan dan minum dari harta yang halal kepunyaannya sendiri karena ingat perintah Allah SWT sudah tentu ia tidak akan meninggalkan segala perintah Allah SWT. dan tidak akan berani melanggar segala larangan-Nya.

Didikan perasaan belas kasihan terhadap fakir miskin karena seseorang yang telah merasa sakit dan pedihnya perut keroncongan. Hal itu akan dapat mengukur kesedihan dan kesusahan orang yang sepanjang masa merasakan perut yang kelaparan.

Selain itu, kesalehan individu hasil dari puasa yang benar, memiliki manfaat yang banyak dan hikmah yang agung. Di antaranya membersihkan dan menyucikan jiwa dari akhlak yang buruk dan sifat yang tercela seperti sifat boros, sombong dan kikir. Serta membiasakan diri untuk berakhlak mulia, misalnya sabar, lemah lembut, pemurah dan dermawan. Melatih jiwa untuk selalu bersungguh-sungguh mengerjakan segala perbuatan yang diridhai Allah dan bisa mendekatkan diri kepada-Nya serta meninggalkan segala bentuk kemungkaran.

Kedua fenomena sosial tersebut, tidak lain hanyalah menunjukkan bahwa “ketahanan mental”, ”etos sosial” dan kekuatan moral bangsa Indonesia, memang sangat rapuh, lemah dan tak berdaya. Dalam pergaulan sehari-hari, manusia Muslim tidak lagi mempunyai daya tangkal dan nalar kritis, terhadap lingkungan. Pendidikan dan ajaran-ajaran agama yang terlalu dipahami secara formal-tekstual-lahiriyah, tetapi kurang dikaitkan dan didalami dengan jiwa, makna nilai dan spirit moral-sosial terdalam dari ajaran-ajaran agama Islam, rupanya berakibat pada tatanan kehidupan sosial yang rapuh.

Ibadah puasa ibarat proses “turun mesin” kejiwaan manusia Muslim, selama satu tahun sekali. Kesediaan untuk melakukan koreksi, introspeksi, kritik, memupuk semangat perbaikan, selalu tercermin dalam menjalankan ibadah puasa.

Pengendalian hawa nafsu, pengendalian diri dan jiwa berkorban pada umumnya seperti diungkap di atas, sebenarnya, tidak hanya terfokus pada kehidupan individu. Dataran individu ini pada saatnya, perlu dikaitkan dan diangkat ke level kehidupan sosial dan kepentingan publik. Dimensi ibadah sosial puasa meminta lembaga-lembaga sosial-kemasyarakatan, lembaga-lembaga sosial-keagamaan dan lembaga-lembaga negara untuk tetap selalu menghidupkan semangat social introspection, social critics, social auditing dan social control. Semuanya mengarah kepada penguatan kehidupan kesalehan publik yang lebih nyata dan meluas.

Sejauh manakah ibadah puasa yang dilakukan selama satu bulan berdampak positif dalam membentuk kesalehan pribadi dan memperkokoh kesalehan sosial? Sejauh mana nuansa pemikiran kritis terhadap lingkungan dapat ditumbuhkembangkan untuk mengurangi gap yang terlalu jauh dalam antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial?

Jika memang belum ada atau masih sedikit dampaknya, barangkali memang benar sinyalemen Nabi bahwa banyak orang berpuasa, tetapi mereka tidak memperoleh apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga, lantaran intisari dan hikmah puasa belum mampu menyentuh kesadaran paling dalam umat dan belum mampu pula membentuk sosok pribadi manusia beragama/ beriman yang matang, utuh, tangguh, yang dapat mempertautkan kesalehan individu dan kesalehan sosial dalam kehidupan luas.

Puasa adalah cabang yang agung dari cabang-cabang ketaqwaan. Cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dan wasilah yang kuat menuju taqwa dalam semua perkara agama dan urusan dunia. Dengan puasa seorang hamba lebih bisa mengendalikan hawa nafsu dan keinginannya.

Menyadari kelemahan dan kekurangannya di hadapan Allah. Mengingatkan akan luasnya nikmat Allah dan juga mengingatkan betapa banyak saudara-saudaranya yang lebih membutuhkan uluran tangan. Sehingga hal itu akan membuatnya menjadi individu yang saleh yang selalu bersyukur kepada Allah Ta’ala.

Nikmat yang dia peroleh akan mengantarkannya untuk menjadi hamba yang ta’at. Sebagai konsekuensinya, lahir semangat pengembangan alias motivasi dan dukungan terhadap hal-hal yang memuliakan, konstruktif, atau dalam bahasa Imam Ghazali, dukungan terhadap hal-hal yang menyelamatkan manusia.

Semangat yang kedua ini menjadi pangkal kepedulian sosial yang pada gilirannya membentuk kesalehan sosial yang mau peduli dan merasakan penderitaan terhadap saudara saudaranya yang miskin sehingga terdorong untuk berbagi terhadap sesamanya.

Wallahul muwafieq…..

 

Penulis: Rusdi Ahmad adalah ASN Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here