CORONA: TANTANGAN KITA SEMUA

0
1053
Dr. Yopi Kusmiati, M.Si, Dosen Psikologi Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sejak Presiden Jokowi mengumumkan ada dua warga negara Indonesia yang terkena virus corona novel (covid 19) atau yang lebih akrab disebut masyarakat Indonesia dengan virus corona pada tanggal 2 Maret 2020, mulai terjadi kepanikan di kalangan masyarakat, meski tidak sedikit juga yang menanggapinya biasa saja. Hal ini bisa terlihat dari beberapa status media sosial yang beraneka ragam. Kepanikan semakin bertambah ketika pada tanggal 11 Maret 2020 Organisasi kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa virus corona covid 19 telah menjadi pandemic global.

Demi mengantisipasi penyebaran covid 19 ini, pada tanggal 15 Maret 2020, Presiden mengeluarkan himbauan untuk menjaga jarak (social distancing) dan meminta siswa dan Mahasiswa untuk belajar di rumah, serta sebagian ASN bekerja dari rumah. Hal ini tentu disambut positif oleh masyarakat, meski muncul beragam sikap, dari yang sudah mulai gelisah, bingung, meski ada juga yang terlihat santai seolah tidak terjadi apa-apa. Di beberapa sudut Ibukota, ibu-ibu rumah tangga masih terlihat melakukan kerumunan, baik di perumahan ataupun di masjid ta’lim, dan tempat-tempat ibadah. Pusat perbelanjaan masih terlihat ramai dipenuhi oleh konsumen yang berbelanja untuk memenuhi stok kebutuhan mereka.

Namun seiring dengan semakin banyaknya berita yang beredar tentang dampak virus corona, membuat masyarakat mengurangi aktifitas di luar rumah dan menghindari keramaian, bahkan beberapa kampus sudah mulai menutup kampusnya, melakukan pembelajaran jarak jauh (online) dan melakukan “work from home (WFH)” bagi pegawai-pegawainya, yang diiringi oleh lembaga-lembaga swasta yang juga memberlakukan “one day WFH” dan “one day WFO (work from office).

Sayangnya, tidak semua orang bisa mengikuti himbauan pemerintah tersebut. Di jalan raya dan beberapa tempat publik lainnya masih banyak terlihat masyarakat yang berlalu lalang dengan berbagai alasan, diantaranya para tukang ojek, tukang sayuran, pedagang makanan keliling, hingga tukang sol sepatu, bahkan pegawai swasta lainnya. Rata-rata mereka adalah orang-orang yang memiliki penghasilan harian. Hal ini tidak bisa kita pandang sebelah mata, karena mereka juga meski menghidupi keluarga mereka. Alasan lainnya mereka juga harus membayar cicilan kendaraan mereka, yang rata-rata mengambil kendaraan secara cicilan di leasing. Melalui acara Indonesian Lawyer Club (ILC) yang tayang pada tanggal 24 Maret 2020, pernyataan seorang ojek online (ojol) benar-benar harus membuka mata dan telinga kita, bahwa mereka sudah kenyang dengan kata-kata mutiara. Saat ini uluran tangan dan empati kita yang mereka butuhkan. Mereka bukanlah orang yang tidak taat akan aturan, mereka juga mau berdiam dan istirahat di rumah, asal mereka bisa makan untuk waktu dua minggu saja.

Meski pada tanggal 24 Maret itu juga Presiden mengeluarkan pernyataan tentang pelonggaran pembayaran kredit bagi masyarakat yang sedang kredit kendaraan bermotor, namun hal tersebut belum menjadi solusi bagi mereka yang memiliki penghasilan harian. Akankah pemerintah memberikan subsidi bagi mereka berupa bahan pokok atau uang harian agar mereka tetap bisa bertahan di masa “karantina corona” ini?

Jika saja kebutuhan hidup mereka terjamin, saya yakin masyarakat akan bisa berdiam di rumah, menjauhkan diri mereka dari keramaian dan kerumunan, yang hal itu tentu saja mereka inginkan. Bukankah dengan tetap keluar rumah itu juga menjadi tantangan bagi mereka? Menantang kejahatan penyebaran virus corona covid-19 yang tidak bisa terlihat oleh mata, yang entah dimana keberadaannya, namun bisa dengan tiba-tiba menyerang tubuh seseorang tanpa disadari olehnya? Yang kemudian virus itu akan dibawa pulang ke rumah mereka, dan akan menyebar ke seluruh anggota keluarga.

Begitu juga dengan para tukang sayur, yang juga menantang corona dengan tetap ke pasar, berjualan memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Adakah solusi bagi mereka? Dan jika pun mereka tidak berjualan, siapakah yang akan memenuhi pangan masyarakat? Ini juga perlu menjadi pemikiran kita semua, mengupayakan cara memesan dan berjualan sayur yang efektif, tanpa harus bertatap muka antara pedagang dan pembeli, sehingga para pedagang sayur tidak harus berhenti berjualan.

Para ibu rumah tangga yang berdiam diri di rumah, bukan tidak memiliki tantangan. Selain harus menyelesaikan tugas sehari-hari yang rutin dilakukan, para ibu juga harus menjadi Guru pengganti anak-anak yang sedang belajar di rumah. Mereka harus mendampingi, mengawasi, dan memeriksa hasil belajar anak, yang kemudian dikirimkan ke Guru masing-masing. Bayangkan jika satu orang ibu memiliki tiga atau empat anak. Bagaimana repotnya mereka harus mengawasi semuanya, yang masing-masing memiliki tugas sekolah yang berbeda-beda. Belum lagi jika sang ibu tidak memahami isi dari materi pelajaran tersebut. Harus kita sadari bahwa tidak semua orang bisa mengetahui segala hal, dan kemampuan seseorang itu memang terbatas.

Hal inipun pasti dialami oleh orang tua yang bekerja, yang saat ini sedang mengerjakan pekerjaan kantornya di rumah. Selain mereka harus menyelesaikan pekerjaan kantor, pekerjaan rumah, tentunya mereka juga harus mendampingi anak-anak yang belajar di rumah. Bukankah beban pekerjaan mereka semakin bertambah?

Corona juga menjadi tantangan bagi para da’i dan dai’yah atau ustadz dan ustadzah. Sejak ada himbauan dari pemerintah dan dari Majelis Ulama Indonesia tentang larangan untuk melakukan sholat berjama’ah di masjid, dan kemudian disusul dengan larangan sholat jum’at, banyak menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat, Tak kalah pentingnya dari itu semua yaitu tuduhan yang bermacam-macam. Ini harus menjadi perhatian serius para dai, memberikan pencerahan kepada jamaahnya dengan penjelasan yang gamblang dan pendekatan persuasif. Melalui pendekatan persuasif, seseorang akan lebih mudah menerima pesan yang mereka dengar. Masa karantina, bukan berarti masa berhenti berdakwah, tetapi dai’ bisa mengubah media dakwah, yang sebelumnya selalu bertatap muka, beralih ke media sosial.

Dan tak kalah pentingnya dari itu semua yaitu corona benar-benar menjadi tantangan para tim medis, dari mulai Dokter, Perawat, Apoteker yang semuanya menjadi garda depan menghadapi corona. Di saat orang lain diminta berdiam diri di rumah, mereka justru harus berperang melawan corona, merawat dan mengobati para pasien yang sudah positif corona dengan segala kemungkinan yang akan terjadi yang bisa menimpa mereka. Mereka harus rela meninggalkan keluarga, demi mengabdi untuk negara.

Maka, ketika virus corona ini menjadi tantangan bagi kita semua, sudah selayaknya kita melawan dan memeranginya bersama, dengan mengikuti semua anjuran pemerintah untuk tetap tinggal di rumah, menjaga jarak dengan sekitar kita, menghindari keramaian, menjaga kebersihan dengan selalu mencuci tangan, demi memutus rantai virus yang sudah bertebaran.

 

Penulis: Dr. Yopi Kusmiati, M.Si, Dosen Psikologi Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here