Dampak Perang Rusia-Ukraina Terhadap Ekonomi Indonesia

0
1270

POSBUMI.COM, JAKARTA – Konflik – perang – yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina, dipastikan akan membawa instabilitas ekonomi global. Hal ini disebabkan karena Gas alam Eropa bergantung 35% dari Rusia, gas alam dari Rusia ke Eropa Barat kemungkinan berkurang secara signifikan baik melalui Ukraina dan Belarus karena sanksi.

Rusia pun merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia dan tergabung ke dalam Organisasi Negara Eksportir Minyak dan aliansinya atau yang dikenal sebagai OPEC+. Produksi minyak Rusia mencapai 10,7 juta bph atau setara 12,1% produksi dunia. Jumlah ini menempatkan Rusia duduk di peringkat 3 produsen minyak mentah dunia terbesar. Sedangkan cadangan terbukti minyak mentah Rusia mencapai 107,8 juta barel.

Pasar energi dipastikan akan terpukul, desrupsi supplay chain/pasokan migas akan terganggu, aggregat supply dipastikan akan menunjukkan trend menurun, akibatnya lonjakan harga minyak dan gas di pasar internasional tidak dapat dihindari. Apalagi kalau Putin melakukan counter attack atas sanksi yang dijatuhkan Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS), dengan mengurangi pasokan Gas ke Eropa maka dapat dipastikan industri di eropa akan lumpuh.

Kondisi diatas, semakin diperberat dengan adanya masalah besar berupa kelangkaan kontainer yang telah dirasakan secara global. Sebagai akibat dampak Covid-19, yang mengakibatnya terhentinya aktivitas kontainer dan shipping. Akibatnya biaya logistik akan meningkat, biaya produksi juga meningkat dan harga ditingkat konsumenpun menjadi naik.

Bagaimana Dengan Indonesia ?

Pertama, kelangkaan kontainer yang mengglobal, jelas berimbas pada kegiatan ekspor maupun impor Indonesia. Kondisi ini akan meningkat harga jual baik untuk pasar internasional ( ekspor ) maupun untuk pasar domestik, dengan cacatan sepanjang bahan baku yang digunakan dalam proses produksi berasal dari import.

Perlu diketahui juga bahwasanya hingga saat ini banyak komoditas pangan Indonesia yang berasal dari impor, mulai dari gandum dimana Indonesia merupakan importir utama dan terbesar gandum di dunia. Diluar gandum, Indonesia mengimpor kedelai, jagung, bawang putih, beras, hingga gula. Dengan memperhatikan target pertumbuhan ekonomi tahun 2022 sebesar 5% dan trend pertumbuhan penduduk yang meningkat, maka kebutuhan import terhadap komoditas diatas akan semakin meningkat dan komoditi tersebut rawan terhadap kenaikan harga akibat kelangkaan kontainer dan aktivitas shipping yang menurun.

Kedua, terkait dengan konflik Rusia Ukraina, juga membawa dampak langsung terhadap kenaikan harga jual produk Indonesia. Untuk diketahui, Indonesia merupakan importir utama dan terbesar gandum di dunia. Data dari UN Comtrade menunjukkan, pada tahun 2020, Ukraina memasok sekitar 23,51% gandum Indonesia. Disamping itu, sebanyak 15,75% kebutuhan pupuk Indonesia diimpor dari Rusia dan sekitar sekitar 7,38% baja impor Indonesia berasal dari Rusia dan Ukraina. Karenanya konflik kedua negara juga akan mempengaruhi pasokan kebutuhan impor Indonesia, dan cenderung akan mempengaruhi cost of production, serta ketahanan pangan Indonesia.

Konflik Rusia Ukraina juga akan mendorong kenaikan harga minyak dunia, mengingat Rusia merupakan produsen minyak mentah ke 3 terbesar di dunia sehingga dipastikan akan berdampak pula pada Indonesia yang aggregat demand nasional cenderung semakin meningkat, dan keterbatasan kilang minyak yang ada sehingga kebutuhan akan minyak masih tergantung pada import. Dampak lainnya adalah meningkatnya harga energi yang menggunakan minyak dan batubara seperti listrik untuk kebutuhan rumah tangga dan industri tidak dapat dihindari lagi, sehingga tidak menutup kemungkinan Inflasi pun melambung.

Kenaikan permintaan terhadap import minyak, gandum dan komoditi lainnya yang berasal dari impor, kecenderungan adanya kenaikan harga sebagai akibat kelangkaan kontainer, terganggunya aktivitas shipping, terganggunya rantai pasokan akibat perang Rusia – Ukraina, tentunya akan memberikan kontribusi yang significant terhadap defisit transaksi berjalan Indonesia.

Peluang Indonesia di tengah konflik Rusia Ukraina.

Ketika pasokan minyak mentah dan gas alam terganggu akibat konflik Rusia Ukraina, maka energi substitusi dalam hal ini batu bara menjadi salah satu solusi untuk mengatasi krisis energi secara global, karenanya harga batu bara juga dipastikan akan meningkat.

Indonesia sendiri adalah eksportir batu bara terbesar di dunia. Berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), ekspor batu bara dari Indonesia tercatat sebesar 405 juta ton. Dengan adanya kecenderungan harga batu bara yang semakin meningkat, tentunya akan berimbas pada neraca perdagangan Indonesia.

Disamping hal diatas, beberapa komoditi ekspor utama Indonesia saat ini juga mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi, seperti CPO, Karet, Kopi dll. Tentunya perlu dipikirkan kembali upaya untuk memperluas segmen pasar melalui peningkatan hubungan bilateral, melakukan berbagai upaya kebijakan supporting yang mampu mendorong komoditas ekspor, sehingga mampu menciptakan posisi tawar yang bagus di pasar internasional, terutama untuk komoditi/produk yang bersifat substitusi yang dihasilkan oleh negara lain, mencari pasokan baru dari negara lain terutama untuk gandum dan komoditi lainnya yang selama ini di import dari Rusia maupun Ukrania, memberikan kemudahan kepada calon investor yang berminat untuk investasi khususnya pada komoditi/produk produk yang selama ini di import dan memberikan kontribusi besar pada total impor maupun pada defisit neraca berjalan, sehingga kedepan, defisit neraca berjalan dapat semakin kecil, neraca perdagangan semakin surplus, cadangan devisa semakin meningkat, nilai tukar semakin stabil dan tidak menutup kemungkinan rupiah semakin menguat, fondasi ekonomi semakin kuat dan sebagainya.

(Saptono S./Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here