Wali Kota Tri Rismaharini: Penyebaran COVID-19 di Surabaya Berasal dari 16 Klaster

0
570

POSBUMI.COM SURABAYA – Sebanyak 16 klaster itu terdiri dari klaster luar negeri, klaster Jakarta, klaster rumah ibadah, dan klaster pasar.

Dari belasan klaster yang ada, Pemkot Surabaya kemudian melakukan tracing secara menyeluruh.

Baca juga: 1.083 Warga Surabaya Jalani Tes Swab, Hasilnya 109 Positif Corona

Pola yang digunakan adalah dengan melacak satu per satu riwayat perjalanan pasien pernah ke mana dan bertemu siapa saja.

“Jadi, pasien A ini ke mana, dia ditanya kamu berjabat tangan dengan siapa, misalnya B dan C. Terus misalnya ke kantor ketemu dengan D, E, F. Semua kita awasi, kita telusuri,” kata Risma di Balai Kota Surabaya, Minggu (10/05/2020).

“Misalnya dia datang dari luar negeri, kita tracing keluarganya. Kalau ada gejala berat, dia masuk PDP, kalau ada gejala ringan dia masuk ODP, kalau tidak ada gejala dia masuk OTG,” ujar Risma menambahkan.

Menurut Risma, klaster-klaster tersebut memiliki dampak yang signifikan terhadap penambahan kasus corona di Surabaya.

Hingga saat ini, penambahan kasus corona dari 16 klaster mencapai 4.818 orang dalam risiko (ODR).

Baca juga: Sanksi PSBB Surabaya Raya Tahap 2, Perpanjangan SIM Ditunda dan Tak Bisa Urus SKCK

Dari jumlah itu, ada yang statusnya meningkat menjadi ODP, PDP, OTG serta konfirmasi positif COVID-19.

SCROLL UNTUK LANJUT BACA

Total kasus corona di Surabaya hingga Sabtu (09/05/2020) berjumlah 6.136 kasus, di mana OTG 971 orang, ODP 2.958 orang, PDP 1.540 orang, dan 667 orang positif COVID-19.

“Sementara kasus ODP yang sembuh berjumlah 2.918 orang dan jumlah kasus positif sembuh berjumlah 100 orang. ODR yang sembuh 2.918 orang, yang meninggal ada 80 orang, 4 orang meninggal murni karena Covid-19, sisanya punya penyakit penyerta,” kata Risma.

Pemkot Surabaya juga telah melakukan tes swab kepada 1.083 orang dan rapid test terhadap 4.246 orang.

Dari 1.083 pasien yang dites swab, terdapat 109 kasus positif. Sementara dari 4.246 orang yang di-rapid test, pasien reaktif berjumlah 370 dan non-reaktif 3.876 orang.

Risma tak menampik bahwa di awal-awal kasus ini muncul di Surabaya, pihaknya sempat kesulitan alat tes.

Petugas terkendala untuk memisahkan mana pasien positif dan negatif.

Namun, dengan dilakukannya rapid test dan tes swab secara massal, petugas mulai bisa mencari formula yang efektif untuk menekan jumlah kasus dan penyebaran virus corona.

“Dulu kita terkendala alat tes swab, tapi kita kemarin bisa melakukan itu (tes swab) karena kita punya alat dan sudah kita tes kurang lebih 1.083 yang kita swab,” tutur Risma.

( DONI )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here